Selasa, 29 November 2016

Kayong Utara Tradisi Robok-robok ktenye hari naas pek budak-budak e



Apabila kita membicarakan mengenai asal usul acara Robo-robo dari kebudayaan, adat istiadat dan Agama di Kalimantan Barat Suku bugis di kayong utara salah satu kepulauan yaitu pulau Maya Desa Kamboja Masih melaksanakannya dengan pembacaan Doa Al-Kasah yang dibacakan para sesepuh tokoh masyarakat di desa Kemboja allah dulilla sampai sekarang masih dilaksanakan ,berjijiran setiap didepan rumah masyarakat ketupat,apam dan air yang siap untuk di doakan, dan sesepuh melarang berjalan jauh-jauh dari kampung..
Dari segi Agama ini berlatar belakang Sejarah Nabi Muhammad S.A.W yang mngembangkan ajaran Agama Islam. Sedangkan dari sisi adat istiadat dan budaya bahwa yang pertama kali menyelenggarakan acara Robo-robo adalah Penembahan Kerajaan Mempawah yang telah memeluk Agama Islam.
Untuk Kabupaten Mempawah khususnya dalam wilayah pengaruh Galaherang dan Opu Daeng Manambon sering berkunjung dari Sebukit Rahma ke Galaherang untuk mendiskusikan berbagai Ilmu Pengetahuan baik yang menyangkut masalah Agama Islam maupun pemerintahan untuk dijadikan I’tibar baik bagi penguasa maupun bagi masyarakat umumnya.
Semenjak kalahiran Nabi Muhammad S.A.W maka semenjak itu pula Umat Islam merayakan dengan sebutan “Maulid”, kemudian saat Isra’ Mi’raj dan sampai pada perjuangan-perjuangan Nabi dalam mengembangkan ajaran Agama Islam. Seperti Perang Uhud, Perang Khandaq, Perang Khaibar, Perang Badhar dan lain-lain.
Perkataan perang disini tidak berarti berkembangnya Agama Islam itu selalu dengan “Pedang” akan tetapi dalam mempertahankan Haq adalah merupakan suatu kewajiban baik, pribadi, masyarakat, maupun suatu negara.
Dari peristiwa perang, maka terdapat dalam sejarahnya kisah Perang Khaibar yang kemudian melatar belakangi acara Robo-robo, tapi bagi masyarakat desa kemboja menyebutnya hari safar hari rabu dak boleh jauh-jauh keluar rumah bahaye katenye te'kawan, bapak2, ibu dan abang, abang dan ade2, adeq!!!!!!!!!!!!!!!!!!

1 komentar:

  1. bangga dengan budaya kalimanatan barat dan jangan sampai punah

    BalasHapus